Senin, 21 Mei 2012

Metode Tradisional dan Modern Dalam Pembelajaran Bahasa Arab



Konsep pendidikan di dalam sebuah lembaga baik formal maupun tidak formal terbagi menjadi dua yang mana keduanya saling berkaitan satu sama lainya yaitu belajar dan pembelajaran. Konsep belajar berasal dari unsur perserta  didik dan pembelajaran berasal dari unsur pendidik. Kegiatan pembelajaran memilIki beberapa komponen seperti peserta didik, guru, tujuan pendidikan, isi pelajaran, metode mengajar, media, dan evaluasi. Adapun didalam pembelajaran bahasa arab  sendiri secara  umum memilki sebuah tujuan yaitu agar peserta didik mampu menguasai empat keterampilan bahasa yaitu keterampilan menyimak, keterampilan membaca, keterampilan menulis.


Proses  belajar-mengajar tergantung pada cara mengajar guru, jika cara mengajar guru enak menurut siswa maka siswa akan bersemangat didalam belajar begitupun sebaliknya jika cara mengajar guru kurang enak menurut siswa maka siswa akan menurun semangat belajarnya. Maka dari itu sebuah metode sangatlah penting didalam pembelajaran baik tradisional maupun modern

Pentingnya sebuah metode
Dalam pembelajaran bahasa arab metode merupakan langkah yang harus ditempuh oleh setiap pengajar yang ingin mengajarkan bahasa arab. menurut Arifin sebuah metode merupakan  suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. jadi sebuah keinginan akan tercapai didalam pengajaran terhadap peserta didik tergantung pada metode yang digunakan  si pendidik. Metode juga dianggap sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan atau materi pelajaran kepada peserta didik dan dianggap lebih signifikan dari aspek materi sendiri.


Dari konsep metode diatas maka korelasi metode dengan pembelajaran sangatlah penting didalam menunjang kesuksesan pembelajaran dikelas. menurut Mahmud Yunus : metode itu lebih penting dari materi. maka dari itu materi bukan  merupakan suatu jaminan didalam pembelajaran di kelas. Tetapi penggabungan antara materi dan metode haruslah sepadan karena materi membuat siswa percaya pada guru sedangkan metode merupakan proses penyampaian ilmu agar siswa tertarik. keduanya saling berkaitan satu sama lain. 


Namun demikian, keunggulan suatu metode dalam pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor. menurut M. Basyiruddin Usman setidaknya ada lima faktor yang harus dipertimbangkan sebelum seorang pendidik menetapkan suatu metode yang akan digunakan dalam proses belajar –mengajar. Pertama, tujuan. Setiap topik pembahasan memiliki tujuan secara rinci dan spesifik sehingga dapat dipilih metode yang tepat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai didalam pembelajaran. Kedua, karakteristik siswa, adanya perbedaan karakteristik siswa baik sosial, watak dan lainya harus menjadi pertimbangan tenaga pendidik dalam memilih metode yang baik, Ketiga, situasi dan kondisi, Keempat, perbedaan pribadi dan kemampuan guru. Kelima, sarana dan prasarana.

Metode Tradisional
Penamaan tradisional (konvesional) merupakan penamaan yang didalamnya pada pertimbangan bahwa metode tersebut yang lazim dipakai oleh guru. Metode modern (inkonvesional) merupakan teknik mengajar yang baru berkembang dan belum digunakan secara umum. Method konvesional cukup banyak membawa keberhasilan. Dan terdapat juga kekurangannya. Adapun kendalah utama biasanya lahir dari pengajar bahasa arab .


Metode pembelajaran tradisional berdasarkan pada buku Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab karya Prof Dr Azhar Arsyad memiliki  sifat  praktis,  Ia lahir berdasarkan pengalaman dan dapat dipakai untuk semua umur siswa. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut
a.       Persiapan sebelum pembelajaran  
b.      Berbicaralah bahasa arab didalam kelas
c.       Jangan pindah sebelum mantap, jangan tertipu oleh jawaban bersama
d.      Buku bukan guru tetapi alat pembantu
e.       Berikan banyak tamrinat
f.       Latih siswa bertanya dalam bahasa arab
g.       Berikan semangat/ dorongan
h.      Ciptakan suasana menyenangkan

Metode Pembelajaran Bahasa Arab Modern (Inovatif)
Cara pembelajaran ala modern merupakan metode inovatif. Berdasarkan dari buku rujukan tentang metodologi pembelajaran bahasa Arab karya Prof Dr Azhar Arsyad bahwa penerapan metode pembelajaran bahasa arab dinegara Barat  seperti Amerika dan Eropa terdiri dari tiga metode yaitu pertama suggesstopedia. kedua, counseling learning dan ketiga, the silent way. metode ini muncul setelah adanya kritikan dari seorang ahli bahasa  dari massaxhusetts institute of technology yaitu Noam Chomsky, yang mengatakan bahwa belajar bahasa dengan memakai metode audio – Lingual atau menirukan dan mengulangi berkali-kali dianggap cara belajar seperti burung beo. Selain itu pembelajaran hanya mementingkan struktur permukaan bahasa itu sedangkan makna bahasa itu sendiri, tersimpan dalam diri si pembicara, terabaikan. 


Ditulisan ini penulis hanya membahas 2 metode yang dianggap tepat dan efektif didalam Pembelajaran Bahasa Arab

Suggesstopedia
Lazanov adalah pencetus pertama kali metode Suggestopedia atau disebut Suggestology karena dapat membasmi pengaruh buruk dari perasaan takut dalam proses pembelajaran. seperti perasaan tidak mampu, perasaan takut salah, belum familiar.  Menurut Bancropt seperti dalam buku A. Arsyad ada enam unsure dasar metode ini.
a.      Authority
yaitu adanya semacam dari seorang guru (guru dapat dipercaya kemampuanya) yang membuat murid yakin dan percaya pada dirinya sendiri. Stevick, salah satu seorang pengagum metode ini, menyatakan kalau self confidence tercipta, maka rasa aman terpenuhi, kalau rasa aman terpenuhi, maka murid akan terpancing untuk berani berkomunikasi.
b.      Infantilisasi.
Yaitu murid seakan-akan seperti anak kecil yang menerima authority dari guru. belajar seperti anak-anak dapat melepaskan murid dari tekanan belajar sehingga murid dapat belajar secara ilmiah. Ilmu masuk tanpa disadari seperti apa yang dialami oleh seorang anak kecil.
c.       Dual Komunikasi
yaitu komunikasi verbal dan non verbal yang berupa rangsangan semangat dari keadaan ruangan dan dari kepribadian seorang guru. Murid-murid duduk di kursi yang nyaman dengan tata ruang yang hidup dan memberi semangat. Guru menghindari mimik yang menunjukan ketidak sabaran, cemberut, sinis, dan kritik-kritik yang negative.
d.      Intonasi
dalam hal ini. Guru menyajikan materi pelajaran dengan tiga yang berlainan. Dari intonasi mirip orang berbisik dengan suara tenang dan lembut . intonasi yang normal biasa-biasa sampai kepada nada suara keras dramatis
e.       Rhythm ,
yaitu pelajaran membaca dilakukan dengan irama, berhenti sejenak diantara kata=-kata dan rasa yang disesuaikan denga nafas irama dalam, disini murid diminta dan diajar untuk menarik nafas selama dua detik. Menahannya selama empat detik dan menghembuskannya selaman dua detik.
f.        Keadaan Pseudda-Passive
pada unsure ini keadaan murid betul-betul rileks. Tetapi tidak tidur sambil mendengar irama music abad ke 18 racle (1977) menjelaskan bahwa pada saat-saat rileks inilah terjasi paa yang disebut hypermnesia” dimana daya ingat menjadi kuat.


Meskipun demikian metode ini diangap modern dan inovatif , namun masih terdapat kecacatan atau  beberapa kekuarangan dan tampaknya kurang tepat diterapkan di lembaga pendidikan formal di Indonesia. Akan tetapi ada beberapa prinsip yang bisa diambil dari metode ini berkenaan dengan prinsip belajar bahasa, yakni prinsip “the principle of joy and easiness’ prinsip senang dan menganggap susatu itu gampang. Hal ini sejalan dengan pandangan Lariy Anger bahwa belajar bahasa sebaiknya disuasanai oleh hal – hal yang menyenangkan dan sedapat mungkin dinikmati.

Counseling learning method (CLM)
Prof Charles Corran adalah orang yang pertama kali membahas tentang CLM yang kemudian dipakai oleh loyola university chicago pada tahun 1967. Dengan tujuan agar minat murid dpat memperoleh pandangan-kpandangan baru dapat memberikan stimulasi terdaap perkembanganya disamping mempererat hubungan dengan orang lain. 


Didalam metode CLM Murid disebut “client” dan guru disebut “cunselor’ atau “knower” tingkatan belajar mulai awal sampai akhir. Adapun proses pembelajaranya dengan menekankan cara belajar siswa aktif bersama. dari sinilah siswa dapat didorong minat untuk belajar bahasa.


Hasil dari proses pembelajaran CLM  terhadap Perkembangan bahasa client mulai ia dalam status “zero”( tergantung penuh) sampai ke status “total independent” (tidak tergantung sama sekali pada orang lain) dalam berkomunikasi. Bahasa dimulai dari apa yang siswa mau katakan. Client mengatakan apa yang ingin dikatakan dan counselor menunjukan kepadanya bagaimana mengatakan sesuatu sampai akhirnya client merasa leluasa memakainya dan mampu menjawab pertanyaan secara produktif. suatu hal yang menarik dalam metode ini adalah adanya usaha murid untuk menyibukkan dirinya secara ikhlas, bukan dengan paksaan sampai ia mampu berkomunikasi.

Penutup
Bahwa Metode pembelajaran bahasa arab baik tradisional maupun modern memiliki tujuan sama yaitu membuat siswa yang di didik bisa menerima pelajaran dengan ikhlas tanpa paksaan. Adapun perbedaannya antara kduanya dapat dilihat dari pembahaan diatas yang mana setiap masing – masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan, yang pastinya  didalam  Proses  belajar-mengajar guru harus memberikan pembelajaran yang terbaik menurut cara masing –masing guru,  jika cara mengajar guru enak menurut siswa maka siswa akan bersemangat didalam belajar begitupun sebaliknya jika cara mengajar guru kurang enak menurut siswa maka siswa akan menurun semangat belajarnya.

Metode Pembelajaran Bahasa Arab

Dalam pengajaran bahasa ada tiga istilah yang perlu dipahami pengertian dan konsepnya secara tepat, yakni pendekatan, metode dan teknik. Menurut Edward Antony (dalam Efendy, 2005) pendekatan ialah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakekat bahasa, dan belajar mengajar bahasa. Metode adalah rencana menyeluruh penyajian bahasa secara sistematis berdasarkan pendekatan yang di tentukan. Sedangkan teknik adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam kelas, selaras dengan metode dan pendekatan yang telah dipilih.
Effendy (2005:30--75) menyebutkan beberapa metode dan pendekatan pembelajaran bahasa Arab sebagai berikut.
  1. Metode gramatika terjemah (( طريقة القواعد و الترجمة. Materi pelajaran yang ditekankan dalam metode  ini adalah buku nahwu, kamus atau daftar kata, dan teks bacaan. Tatabahasa disajikan secara deduktif, yakni dimulai dengan penyajian kaidah diikuti contoh-contoh, dan dijelaskan secara rinci dan panjang lebar. Sedangkan teks bacaan berupa karya klasik atau kitab karya sastra lama. Peran guru aktif sebagai penyaji materi,  dan peran pelajar pasif sebagai penerima materi.
  2. Metode langsungالطريقة المباشرة ) ). Materi pelajaran berupa buku teks yang berupa daftar kosa kata dan penggunannya dalam kalimat. Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan. Kemampuan berbicara dan menyimak dilatihkan kedua-duanya. Guru dan siswa sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan stimulus berupa contoh ucapan, peragaan, dan pertanyaan, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan, menjawab pertanyaan, memeragakan dan sebagainya.
  3. Metode membaca ( طريقة القراءة ). Materi pelajaran berupa buku bacaan dengan suplemen daftar kosakata dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan. Basis kegiatan pembelajaran adalah memahami isi bacaan yang didahului dengan pengenalan kosa kata dan maknanya,
  4. Metode Audio-lingual  ( الطريقة السمعية البصرية). Yaitu metode yang mengajarkan bahasa, dimulai dengan memperdengarkan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk kata atau kalimat kemudian mengucapkannya, sebelum pelajaran membaca dan menulis.
  5. Metode komunikatif (الطريقة الإتصالية ). Metode ini merupakan pengajaran yang mengembangkan kompetensi belajar berkomunikasi dengan bahasa target dalam konteks komunikatif yang sesungguhnya atau dalam situasi kehidupan yang nyata. Metode komunikatif tidak ditekankan pada penguasaan gramatikal atau kemampuan membuat kalimat gramatikal, melainkan pada kemampuan memproduk ujaran yang sesuai dengan konteks.
  6. Metode eklektik  .(الطريقة الانتقائية)Metode ini merupakan penggabungan dari unsur-unsur yang ada dalam metode gramatika-terjemah, langsung, membaca, audio-lingual, atau komunikatif.

Problematika Pembelajaran Bahasa Arab


Belajar suatu bahasa, baik bahasa ibu (mother tongue) atau bahasa nasional yang menjadi simbol kebangsaan, pada masa kanak-kanak merupakan proses yang mau tidak mau mesti berlangsung. Proses yang tak dapat dihindari dan sebuah keniscayaan. Disebut bahasa ibu karena bahasa ini dipakai oleh anak-anak saat ia berkomunikasi dengan ibunya ketika ia mulai belajar bicara. Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan masyarakat yang berbahasa daerah tertentu, misalnya bahasa jawa dan sunda,  anak tersebut akan menjadikan bahasa daerah sebagai “ bahasa ibunya”
Bahasa nasional ialah bahasa yang dipakai sebagai bahasa resmi dalam Negara atau bangsa tertentu. Bahasa nasional kesatuan republik Indonesia adalah bahasa Indonesia se-bagaimana yang dikukuhkan pada sumpah pemuda puluhan tahun yang lalu. Mempelajari sebuah bahasa bukan hanya mempelajari bahasa berdasarkan kurikuler, melainkan juga harus belajar dari masyarakat sekitar ( bahasa komunikasi yang berkembang mulai dari yang terdekat, seperti ibu, bapak, nenek, adik, dan teman-sahabat bermain hingga seseorang memasuki lembaga pendidikan formal. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa anak didik Indonesia meskipun ia belum memasuki lembaga sekolah sudah memiliki pengalaman berbahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa Indonesia atau bahkan kedua-duanya karena Indonesia termasuk Negara yang menggunakan dwibahasa, yakni bahasa nasional dan daerah.
Seseorang yang mempelajari bahasa asing, misalnya bahasa arab disekolah formal, madrasah, pesantren, akademi, dan perguruan tinggi tergolong sebagai orang yang berkepandaian khusus. Setiap tahunnya, ribuan bahkan mungkin ratusan ribu orang yang bersemangat mempelajari bahasa asing dengan motif dan tujuan yang berbeda-beda. Diantara yang puluhan atau bahkan ratusan ribu orang itu yang berhasil baik dan mencapai tujuan demikian?  sebab pertama dan paling utama adalah orng yang mempelajari bahasa asing tersebut sudah memiliki pengalaman berbahasa komunikasi dengan bahasa ibu. Bahasa ibu inilah yang dipandang sebagai penghambat, meskipun seseungguhnya tidaklah demikian. Kita tentu sudah mafhum bahwa pengalaman berbahasa seseorang berbeda-beda antar seseorang dan orang lainnya. Seorang anak yang sejak kecil hanya menggunakan satu bahasa, mislanya bahasa Indonesia, mempunyai kebiasaan utnuk menggunakan bahasa yang diketahuinya itu. Kini, bahasa yang ia gunakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalamannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan dan pengenalan tentang barang-barang. Pengalaman yang bertambah dan tertanam kuat dalam benak ketika berhubungan erat dengan penambahan pelajaran bahasa pada perkembangan selanjutnya, meskipun tanpa disadarinya.
Ketika seorang anak dalam proses belajar disekolah harus mempelajari sesuatu bahasa asing, sebenarnya, ia menghadapi masalah yang sama, yaitu melalui tahap-tahap pengenalan pendengaran, dan pengucapan. Tetapi,tahap yang ditempuh tentu dalam wujud yang sangat jauh berbeda, misalnya perbedaan dalam segi suara, kosakata, tata kalimat, dan juga tulisan. Unsur –unsur bahasa yang diajarkan dalam tingkat anak-anak akan sangat jauh berbeda dengan unsur-unsur bahasa yang diajarkan ditingkat pelajar (bahasa ibu dan nasional) karena bagaimanapun tidak ada bahasa yang unsur –unsur atau strukturnya sama. Jadi, dapat dikatakan bahwa proses mempelajari bahasa arab sebagai bahasa asing bagi orang Indonesia merupakan usaha-usaha yang khusus untuk membentuk dan membina kebiasaan baru yang dilakukan secara sadar, sedangkan ketika mempelajari bahasa ibu, proses pembelajaran itu berlangsung tanpa sadar. Seorang pelajar sudah penah mendapatkan pengetahuan tentang gramatika bahasanya sendiri ia akan berusaha pula untuk mendapatkan hal yang sama ketika ia mempelajari bahasa asing.
Menurut hemat kami, proses kamajuan mempelajari bahasa bagi orang Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana perbedaan dan persamaan antara bahasa pelajar dan bahasa arab yang dipelajarinya dan sejauhmana bahasa pelajar itu dapat mempengaruhi proses pembelajaran bahasa arab. Dalam pengajaran bahasa asing, ada sebah prinsip yang harus selalu menjadi rujukan, yaitu bahwa persaman-persamaan antar bahasa pelajar dan bahasa asing yang dipelajari dapat menimbulkan berbagai kemudahan, sedangkan perbedaan-perbedaan yang ada dapat menimbulkan berbagai kesulitan. Atas dasar prinsip itu, sebelum memberi pelajaran dikelas, seorang guru bahasa arab harus sudah membuat catatan dan daftar mengenai perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan itu terlebih dahulu, baik mengenai tata bunyi, kosakata, tata kalimat, tulisan. Sulit dipungkiri bahwa perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan itulah yang sering menjadi masalah dan menimbulkan kesukaran daam proses pembelajaran bahasa arab permasalahan ini terkadang kurang disadari oleh sebagian guru bahasa arab, baik guru bahasa arab yang berasal dari Indonesia maupun guru penutur aslinya (native speaker).
Seorang guru bahasa arab seharusnya banyak menaruh dan mencurahkan perhatiannya kepada perbedaan-perbedaan itu karena para pelajar secara umum banyak yang membuat kesalahan dalam hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan – perbedaan antara bahasa asing dan bahasa ibu seorang pelajar. Tegasnya, tindakan yang harus dilakukan untuk mempelancar proses belajar bahasa asing harus diawali oleh seleksi materi pelajaran, uruatan, dan cara penyajianya. Namun, uraian tentang persamaan-persamaan yang ada antara bahasa ibu dan bahasa asing harus didahulukan dari pada perbedaan-perbedaannyta, terutama bagai tingkat pemula. Langkah ini dilakukan untuk menghindari timbulnya kesan bahwa bahasa arab itu bahasa yang sangat sulit dipelajari. Selama ini, bahasa arab merupakan pelajaran ang sangat ditakuti oleh sebagian besar pelajar disekolah, termasuk pesantren sekalipun. Ini terjadi karena seleksi materi pelajaran, urutan, dan cara penyajiannya yang kurang sesuai dan tidak disesuaikan dengna situasi kondisi psikologi pelajar Indonesia.
Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa, selama ini, buku-buku pelajaran bahasa arab yang digunakan di madrasah dan pesantren banyak yang berasal dari Negara-negara arab yang tentu saja belum dilakukan penyesuaian untuk proses pengajaran bahasa bagi orang asing, termasuk orang Indonesia. Realitas ini memungkinkanadannya penyeleksian materi, urutan, dan cara penyajian yang hanyak cocok bagi pelajar yang sudah memiliki dasar tentang bahasa arab. Padahal materi tersebut sungguh pun sangat bagus belum tentu tepat dan cocok untuk pelajar Indonesia. Atas dasar itu, penerbitan buku-buku teks tentang pelajaran bahasa arab bagi semua tingkatan, mulai dari tingkatan ibtidaiyah, tsanawiyah, a’liyah hingga perguruan tinggi sangat diperlukan. Demikian pula halnya buku-buku teks  untuk perguruan tinggi yang harus dibagi dalam tiga tingkatan yaitu tingkat pemula( marhalah ibtidaiyyah), tingkat menengah (marhalah muthawasithah) dan tingkat lanjutan(marhalah muqaddimah).
Berdasarkan uraian-uraian diatas, dapat dikatakan bahwa orang Indonesia yang besar minatnya untuk mempelajari bahasa arab pasti banyak menemui problematika kebahasaan yang harus diatasinya sendiri, baik yang bersifat linguistik seperti mengenai tata bunyi, kosakata, tata kalimat, dan tulisan maupun bersifat non linguistik seperti yang menyangkut segi sosio budaya permasalahan –permasalahan seperti inilah yang harus diperhatikan dan diamati secara cermat ketika sorang penyusun bermaksud menulis pelajaran bahasa arab untuk orang Indonesia.

STRATEGI PEMBELAJARAN TAROKIB

Pada pembahasan materi strategi pembelajaran tarokib di tingkat dasar, menengah dan lanjut, kami akan membahas terlebih dahulu tentang definisi dari tema tersebut. Definisi strategi berasal dari bahasa yunani yang berarti ilmu perang atau panglima perang, maka strategi adalah suatu seni merancang operasi dalam peperangan (Iskandarwassid:2009).

Definisi pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Dimyati, dkk:2005). Sedangkan menurut Knirk bahwa pembelajaran adalah setiap pembelajaran yang dirancang guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dalam konteks belajar-mengajar.

► Definisi tarokib adalah Seperangkat pola penataan kata dalam sesuatu bahasa.
Sedangkan strategi pembelajaran atau bisa disebut dengan teknik pengajaran adalah operasionalisasi metode. Karena itu, teknik pengajaran itu berupa rencana, aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang pada prakteknya akan diperankan dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas guna mencapai dan merealisasikan tujuan pembelajaran (Abdul Hamid, dkk: 2008).
Pendapat lain mengatakan dalam konteks pembelajaran bahwa strategi menurut Gagne (1974) berarti proses pembelajaran yang menyebabkan peserta didik berpikir untuk memecahkan masalah dalam mengambil keputusan (Iskandarwassid: 2009).

Strategi pembelajaran tarokib itu sendiri,dalam beberapa lembaga pendidikan seringkali dipisahkan menjadi dua, yaitu pembelajaran nahwu dan shorof. Keduannya memiliki karakteristik materi yang bebebeda. Dengan demikian, jika keduannya berdiri sendiri, maka strategi pembelajarannya tentu akan berbeda (Imam: 2009).

Kemudian arti tingkatan mubtadi’ , mutawasith dan mutaqoddim dalam materi pembahasan ini sebenarnya memiliki banyak arti, sesuai dengan konteks yang dimaksud pada tingkatannya, karena pada tiap-tiap tingkatan MI, MTs, MA dan marhalah jami’ah itu juga memiliki pembagian dalam tingkatan mubtadi’ , mutawasith dan mutaqoddim. Namun di sini kami lebih menspesifikasikan tingkat mubtadi’ setara dengan SD/MI, tingkat mutawasith setara dengan SMP/Tsanawiyah, begitu pun dengan tingkat mutaqoddim yakni setara dengan SMA/Aliyah.

Dari beberapa definisi arti di atas, telah kita ketahui arti strategi pembelajaran secara umum dan khusus, sehingga para pakar bahasa mengatakan bahwa mempelajari gramatikal merupakan media untuk mengevaluasi kalam dan kitabah seseorang وسيلة التقويم. pEserta didik dituntut untuk menghafal kaidah-kaidah dengan urutan secara tradisional yang terdapat dalam keseluruhan kitab nahwu dan shorof tanpa melihat kebutuhan peserta didik, sehingga hasilnya peserta didik hanya menguasai struktur bahasa Arab tanpa mengetahui cara mengimplementasikannya secara praktis.
Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid, baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.
Pada perkembangan terkini, pengajaran gramatikal mulai berubah pola ajar dengan mengaitkannya degan kebutuhan riil bahasa keseharian peserta didik yaitu berkisar pada pola-pola (uslub) yang digunakan dalam teks wacana, teks istima’ atau membahas kesalahan-kesalahan yang ada pada hasil karangan peserta didik. Pengajaran gramatika yang berdasarkan kebutuhan ini dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh peserta didik. Pola terakhir ini mendorong peserta didik untuk belajar qowaid secara sungguh-sungguh dan memiliki akses langsung bagi peserta didik dalam menentukan kata dan menyusun kalimat (zainuddin, dkk:2005)

Terdapat dua model pembelajaran nahwu yang dikenal dengan metode qiyasi dan istiqro’i. metode qiyasi ini diawali dengan menyajikan kaidah-kaidah dulu kemudian menyebutkan contoh-contoh’, sedangkan metode istiqroi merupakan kebalikan dari metode qiyasi, yakni pengajaran dimulai dengan menampilkan contoh-contoh kemudian disimpulkan menjadi kaidah-kaidah nahwu.
Adapun strategi dan langkah pembelajaran nahwu sesuai dengan dua metode diatas dalam penerapannya secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:


Penerapan metode qiyasi
1. Guru memulai pelajaran dengan mengutarakan tema tertentu.
2. Menjelaskan kaedah-kaidah nahwu
3. Meminta siswa untuk memahami dan menghafal kaidah-kaidah nahwu
4. Mengemukakan contoh-contoh yang berkaitan dengan kaidah
5. Memberikan kesimpulan pelajaran
6. Siswa diminta mengerjakan soal-soal latihan

Penerapan metode istiqroi
1. Guru memulai pelajaran dengan menentukan topik tertentu
2. Menampilkan contoh-contoh kalimat yang berhubungan dengan tema
3. Siswa diminta untuk membaca contoh-contoh tersebut
4. Guru menjelaskan kaidah nahwu yang terdapat dalam contoh
5. Guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang kaidah-kaidah nahwu
6. Siswa diminta untuk mengerjakan latihan-latihan
(Abdul Hamid, dkk:2008)

Contoh metode istiqro’I:
الأشجار في البستان (contoh ini adalah contoh susunan mubtada’ khobar, guru menjelaskan contoh tersebut dan menyuruh siswa untuk memperhatikan isim yang ada di awal kalimat yang bergaris bawah tersebut, dan guru menjelaskan bahwa kalimat yang ada diawal kalimat tersebut adalah mubtada’, sedangkan kalimat yang setelahnya adalah khobar).

Metode istiqroi ini dapat di terapkan di tingkatan SD/MI,SMP/ MTS dan SMA/MA, akan tetapi pada tingkatan mahasiswa, metode yang biasa digunakan terlebih dahulu adalah metode qiyasi meskipun mahasiswa tersebut belum pernah belajar tarokib.

Pemerolehan Sintaksis
Dalam bidang sintaksis, anak mulai berbahasa dengan mengungkapkan satu kata (bagian kata). Kata ini, bagi anak, sebanarnya hanyalah merupakan kalimat penuh, tetapi karena ia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, ia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat. Seandainjya anak tersebut bernama Andi dan yang ingin dia sampaikan adalah Andi mau pipis, dia akan memilih di (untuk kata Andi), mo (untuk kata mau), dan pis (untuk kata pipis).
Chaer (2003) meringakas beberapa teoti yang terkait dengan pemerolehan Sintaksis. Pertama yaitu teori tata bahsa Pivot yang menerangkan bahwa anak cenderung menggunakan kata-kata fungsi yang bercirikan sebagai berikut:
 Terdapat pada awal atau akhir kalimat
v
 Jumlanya
v terbatas
 Jarang memunculkan kata baru
v
 Tidak muncul sendirian
v
v Tidak muncul bersamaan dalam satu kalimat, dan
 Selalu merrujuk
v pada kata-kata lain.
Teori kedua yaitu hubungannya tata bahasa nurani yang dikemukakan oleh Mc Neil. Mengatakan bahwa ucapan anak meskipun terdiri dari dua kata juga memiliki struktur kalimat yang menunjukkkan urutan Subjek-Verbal dengan posisi Objek sebagai opsional.
Ketiga yaitu hubungan tata bahasa dan informasi situasi yang berpijak dari teori Bloom bahwa hubungan tata bahas merujuk pada konteks atau informasi situasi berjumlah cukup. Hal ini disebabkan ketaksaan gabungan kata yang dihasilkan anak.
Keempat, teori kukulatif komplek yang dikemukakan Browm yang menyatakan bahwan pemerolehan sintaksis anak dimulai dari morfem yang dikuasai. Pada anak-anak hubungan-hubungan semantic tidak selalu sejalan dengan hubungan yang dir=terapkan oleh penutur dewasa.


Daftar Pustaka

• Hamid, Abdul, dkk. 2008. Pembelajaran Bahasa Arab . Malang: UIN Press
• Imam makru. 2009. Strategi pembelajaran bahasa arab aktif. Semarang: Need’s press
• Iskandarwassid, dkk. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa.Bandung: Rosdakarya
• Zaenuddin, dkk. 2005. Metodologi dan Strategi Alternatif. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.
Diposkan oleh Saiful Mustofa di 19:02 http://www.blogger.com/img/icon18_email.gifhttp://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif
0 komentar:
Poskan Komentar
http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyNDEwOTgyODc4MjgmcHQ9MTI*MTA5ODMwMTQ4OCZwPTIzODk4MSZkPSZnPTEmdD*mbz1mNzk*NGJlNmE5NGU*MmZlYmRlNTkzY2FhMmQzMGJjNSZvZj*w.gif
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
Mengenai Saya
Foto Saya
UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
Archives
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
bendera
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
geo city
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
chatt
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
live traffic
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
visitor
Visitors to this page also liked:
 •
 •
 •
 •
 •
 •
 •
 •
 •
 •
http://feedjit.com/images/clickToGetFeedjit.png
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
populer page
Popular Pages Today
 1. 
 2. 
 3. 
 4. 
 5. 
 6. 
 7. 
 8. 
 9. 
 10. 
http://feedjit.com/images/clickToGetFeedjit.png
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
globe
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png
My Friends
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png